<p>Terlihat Dari kejauhan, seorang wanita tua sedang menyusuri jalan setapak di tengah perkebunan kelapa sawit. Berjalan terseok-seok, sambil mendorong gerobak yang biasa di sebut angkong oleh masyarakat sekitar. <p>sesekali ia berhenti di bawah pohon kelapa sawit, ia memunguti sisa berondolan ( butiran buah kelapa sawit) yang tertinggal oleh pekerja yang baru saja selesai memanen buah kelapa sawit di kebun itu. Sedikit demi sedikit di kumpulkanya berondolan-berondolan itu.<br> setelah karung kecil yang ia bawa sebagai wadah berondolan itu terisi penuh, dengan sekuat tenaga tubuh rentanya mengangkat karung berisi yang berondolan dan mengangkutnya kedalam angkong yang di bawanya.
<br>
Raut wajahnya tampak sekali lelah dan letih yang ia rasakan. namun apa daya, mau tak mau ia harus melakukan pekerjaan itu demi mengisi perut yang lapar. <br> yaa,, di dunia yang keras ini, ia harus menjalani masa tuanya seorang diri.<p> Ia hidup sebatang kara, suaminya telah meninggal puluhan lalu. ia juga tak memiliki keturunan. sementara saudara-saudaranya berada jauh entah dimana. <br> gubuk reot di pinggir desa tempanya berteduh. Gubuk yang berdiri di atas tanah seorang warga. gubuk yang sewaktu-waktu bisa rubuh tertiup angin. beratapkan rumput ilalang. Dan dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang kini telah rapuh. Namun mau bagaimana lagi, hanya gubuk reot itu lah yang ia miliki untuk berlindung dari hujan dan terik matahari.
<br>
melepas penat, lelah, dan letih setelah bekerja, sembari mengusap peluh yang menetes di keningnya.<p> duduk termenung meratapi masa tuanya yang hanya seorang diri.<br> di tengah kesepianya merasakan rindu akan sosok suami yang telah lama meninggallanya.
<p> dalam hatinya berdoa, ketika tuhan memanggilnya, ia berharap di pertemukan dengan suamimya surga.
another blog
Senin, 24 Oktober 2016
Tubuh Renta Sebatang Kara
Langganan:
Postingan (Atom)